Pagi ini kelasku kedatangan seorang siswa baru dari SMA di Yogyakarta. Banyu namanya. Wajahnya lucu. Cara berbicaranya halus sekali. Di awal perkenalan pun, bapak guru yang menyebutkan nama dan asal sekolahnya. Ia hanya tersenyum manis menatap kami semua.
Setelah berhari-hari masuk sekolah ia juga belum pernah bersosialisasi dengan kami sekelas. Saat ditanya ia hanya menggerakkan tubuhnya yang terkadang membuat kami semua tertawa karena tingkah dan gayanya.
Seminggu setelah kedatangannya, ia masih juga belum berbicara sepatah kata pun pada kami. Aku bingung. Dia ini tidak bisa berbicara atau apa.
Pernah seorang teman sekelasku curhat padaku bahwa Banyu pernah mengikutinya secara diam-diam sewaktu ia pulang sekolah.
“Iya, sewaktu gue lihat ke belakang ternyata gak ada orang sama sekali. Tapi gue lihat ada sepasang sepatu mirip punya Banyu di balik tiang listrik. Apa jangan-jangan selama ini dia itu stalker?”
“Hus. Jangan berprasangka buruk dulu, kali aja dia mau ngebalikin sesuatu ke lo tapi dia malu, jadi dia ngikutin lo pulang supaya tau rumah lo di mana.”
“Ihh.. Pokoknya gue takut sama Banyu.”
Sudah tiga orang teman sekelasku yang berkata padaku soal Banyu yang jangan-jangan adalah seorang stalker yang bisa saja dia jahat.
Karena rumahku tidak begitu jauh dari sekolah, aku sering berjalan kaki untuk pulang. Tapi kali ini aku merasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang. Saat kulihat ternyata tidak ada orang sama sekali. Yang kulihat hanya ujung sepatu di balik tiang listrik. Aku merinding. Siapa itu? Atau jangan-jangan… pikirku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menghampiri sepasang ujung sepatu di balik tiang listrik. Dan kutemukan Banyu yang merupakan pemilik sepatu itu.
“Banyu! Lo ngapain disini?”
“Emm… Maaf ya, aku ngikutin kamu terus seharian ini.”
“Tapi buat apa? Gak cuma gue kan yang lo stalking? Banyak orang di kelas yang ketakutan gara-gara lo ikutin mereka terus!”
“Maaf, tapi aku cuma mau ngerjain tugasku aja.”
“Tugas apa?”
“Gini, aku dapet tugas dari klub teaterku, aku harus berpantomim menirukan gaya lima anak sekelasku. Jadi selama ini aku ngebuntutin kalian, deh.”
Aku tertegun, “yaa seenggaknya lo harus minta maaf besok ke orang-orang yang merasa lo buntutin.”
339/500 words

.Bagus, sob! Walopun endingnya cuma kesalahpahaman belaka... ;-) so, aneh tp gak pendiem..
BalasHapusheuheuheu...ternyata lg latihan ya :D
BalasHapusOalah, kirain orang jahat, haha..
BalasHapusSemoga sukses pantomimnya. :D
BalasHapus